Pengurus KKTKQ Kecamatan Sukajadi

Kepengurusan KKTKQ Kecamatan Sukajadi Kota Bandung Periode 2010 - 2014

Semarak Kartini 2012

Dalam rangka memperingati perjuangan para pahlawan wanita Indonesia KKTKQ Kecamatan Sukajadi akan mengadakan kegiatan Semarak Kartini 2012 TKQ dan TPQ se-Kecamatan Sukajadi

Nikah Massal Gratis 2012

Panitia Semarak Kartini 2012 bekerjasama dengan KUA Kecamatan Sukajadi akan mengadakan Nikah Massal Gratis 2012

Tentang Taman Kanak - kanak Al Qur'an

Apakah Taman-Kanak Quran itu? Apakah ada persamaan dengan Taman Kanak-Kanak (umum) dan atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)? Berikut ini adalah artikel yang menjelaskan apa dan bagaimana TKQ itu.

Semarak Kartini 2011

Dalam rangka memperingati hari Kartini tahun 2011, KKTKQ Kecamatan Sukajadi telah sukses mengadakan kegiatan Semarak Kartini 2011

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Pendidikan Berkarakter Dalam Islam

Akhir - akhir ini banyak sekali pemberitaan mengenai kenakalan remaja yang cukup meresahkan masyarakat seperti korupsi, teroris, tawuran pelajar, geng motor, dan pelecehan seksual (maraknya video porno). Belum lagi kebiasaan - kebiasaan yang mungkin kita anggap sepele tetapi dapat merusak seperti kebiasaan mencontek. Sebenarnya apa yang salah dengan semaua ini? Apakah pendidikan di negara kita hanya berkutat pada ranah kognitif sehingga sikap dan perilaku anak didik kurang diperhatikan? Ini menunjukan bahwa pendidikan yang ditempuh seseorang tidak menjamin bahwa orang tersebut memiliki karakter yang baik (orang yang baik).

Dalam kurikulum baru - baru ini dijelaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk menghasilkan individu - individu berkarakter baik. Beberapa ahli menyatakan bahwa karakter dapat terbentuk dari pembiasaan yang dilakukan setiap hari bahkan setiap jam.

Menurut Hornby dan Parnwell mengungkapkan bahwa karakter dalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Sedangkan menurut Munir karakter merupakan sebuah pola, baik itu pikiran, sikap, maupun tindakan yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan. Sangat sulit bukan berarti tidak bisa diubah, melainkan memerlukan proses waktu yang lama ataupun stimulus yang kuat. Oleh karena itu, pendidikan berkarakter ini harus diterapkan sejak dini kepada anak. 

Bagaimana hubungannya pendidikan berkarakter dengan ajaran Islam? Islam hadir sebagai penyempuran semua agama yang ditujukan kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini. Islam juga datang sebagai untuk memperbaiki akhlak manusia. Oleh karena itu, tentunya pendidikan berkarakter itu ada dalam ajaran Islam. 

Pendidikan berkarakter dalam Islam didasarkan pada dua hal, yaitu Al Qur'an sebagai kitab suci dan Hadist yang merupakan gambaran perilaku Nabi Muhammada SAW. Dalam Al Qur'an ditegaskan mengenai sosok Nabi Muhammada yang merupakan suri tuladan yang baik dan diutus untuk menyempurnakan akhlak mansia. Hal tersebut tercantul dalam Q.S Al Ahzab ayat 21:
"sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah pada hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". Sedangkan dalam hadist banyak sekali yang menerangkan tentang pembantukan akhlak yang baik, diantaranya adalah:

  1. Kabajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain (HR. Muslim)
  2. Ya Rasulallah terangkan tentang Islam dan aku tidak perlu bertanya kepada orang lain. Nabi Saw. bersabda "Katakan: 'Aku beriman kepada Allah lalu bersikaplah lurus (jujur)'". (HR. Muslim)
  3. Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria dan bila berjanji ditepati (HR. Ad-Dailami)
  4. Kalau kamu sudah tidak punya mau lagi, lakukanlah apa yang kamu kehendaki (HR. Bukhari)
  5. Seorang sahabat berkata kepada Nabi Saw. "Ya Rasulallah! berpesanlah kepadaku!" Nabi Saw berpesan: "Jangan suka marah" Sahabat itu bertanya berulang - ulang dan Nabi tetap berulang kali berpesan "Jangan suka marah!" (HR. Bukhari)
  6. Hati - hati terhadap prasangka! Sesungguhnya prasangka adalah omongan paling dusta (HR. Bukhari)
  7. Dekatkan dirimu kepada - Ku (Allah) dengan mendekatkan dirimu kepada kaum lemas dan berbuatlah ihsan kepada mereka. Sesungguhnya kamu memperoleh rezeki dan pertolongan karena dukungan dan bantuan kaum lemah di kalangan kamu (HR. Muslim)
  8. Sesungguhya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Al Bazzaar)
  9. Sifat malu adalah dari iman dan keimanan itu di syurga, sedangkan perkataan busuk itu adalah kebengisan dan kebengisan itu di neraka (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Berdasarkan keterangan dalam Al Qur'an dan Hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan untuk menyempurnakan akhlak manusia melalui sosok Nabi Muhammada Saw. Oleh karena itu, sudah semestinya kita senantiasa mengajarkan anak didik kita karakter - karakter seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.


THE BEAUTIFUL QURAN RECITAL















Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al Qur’an

Oleh: K.H. Abdul Hasib Hasan

Kemuliaan suatu ilmu terkait pada apa yang dipelajari dan diajarkan. Dan Alqur-an adalah firman Allah yang sangat mulia, yang berasal dari Allah Yang maha mulia. Karena itu mempelajari dan mengajarkan alqur-an adalah perbuatan yang sangat mulia.

Bahkan orang yang mempelajari alqur-an dan mengajarkan alqur-an adalah orang yang paling baik. Rosulullah saw bersabda: “orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari alqur-an dan mengajarkannya” hadis riwayat imam Bukhori. Juga dalam hadis riwayat Bukhori Rosulullah bersabda: “sesungguhnya orang yang paling afdol di antara kamu adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan alqur-an”.

Riwayat pertama menyebutkan orang yang paling baik, dan riwayat kedua orang yang paling afdol. Begitulah memang hakikatnya, bahwa orang yang mempelajari alqur-an dan mengajarkannya adalah orang yang paling baik dan afdol.

Namun yang perlu kita cermati dalam hadis ini bahwa predikat menjadi orang yang terbaik dan paling afdol manakala dua aktifitas ini kita lakukan kedua-duanya. Mempelajari dan mengajarkan alquran. Kalau kita mempelajarinya saja sangat baik, tapi kita belum menjadi orang yang terbaik. Begitu juga kalau kita mengajarkannya saja sangat baik, tapi kita belum menjadi orang yang terbaik. Kita baru akan menjadi orang yang terbaik dan paling utama manakala kita mempelajari alqur-an dan mengajarkannya kepada orang lain.

Kemuliaan suatu ilmu terkait pada apa yang dipelajari dan diajarkan. Dan Alqur-an adalah firman Allah yang sangat mulia, yang berasal dari Allah Yang maha mulia. Karena itu mempelajari dan mengajarkan alqur-an adalah perbuatan yang sangat mulia.Bahkan orang yang mempelajari alqur-an dan mengajarkan alqur-an adalah orang yang paling baik. Rosulullah saw bersabda: “orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang mempelajari alqur-an dan mengajarkannya” hadis riwayat imam Bukhori. Juga dalam hadis riwayat Bukhori Rosulullah bersabda: “sesungguhnya orang yang paling afdol di antara kamu adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan alqur-an”.Riwayat pertama menyebutkan orang yang paling baik, dan riwayat kedua orang yang paling afdol. Begitulah memang hakikatnya, bahwa orang yang mempelajari alqur-an dan mengajarkannya adalah orang yang paling baik dan afdol.Namun yang perlu kita cermati dalam hadis ini bahwa predikat menjadi orang yang terbaik dan paling afdol manakala dua aktifitas ini kita lakukan kedua-duanya. Mempelajari dan mengajarkan alquran. Kalau kita mempelajarinya saja sangat baik, tapi kita belum menjadi orang yang terbaik. Begitu juga kalau kita mengajarkannya saja sangat baik, tapi kita belum menjadi orang yang terbaik. Kita baru akan menjadi orang yang terbaik dan paling utama manakala kita mempelajari alqur-an dan mengajarkannya kepada orang lain.

sumber:
http://elfath.eksplore.com

Karakter Pendidikan Akhlak dalam Pendidikan Islam

Kecanggihan teknologi semakin hari semakin melaju pesat. Dalam zaman globalisasi seperti sekarang ini, tidak heran jika gerak laju ilmu pengetahuan semakin pesat. Berbagai informasi dapat dengan mudah kita akses. Jaman bergerak adalah sebutan yang tepat mengenai hal ini, karena arus informasi terus bergerak mengiringi laju perputaran bumi.

Salah satu bukti bahwa kecanggihan teknologi semakin pesat adalah dengan adanya dunia hiburan yang kian banyak dan marak menjamur. Di Yogyakarta saja, setiap jalan protokol dapat dengan mudah dijumpai game online dan tempat-tempat itu pun ramai dikunjungi. Menurut Dhimam Abror Dj., globalisasi memang membawa banyak keuntungan, salah satunya dalam dunia hiburan. Namun sebenarnya globalisasi memendam persoalan yang kompleks, bahkan lebih kompleks daripada persoalan IMF.

Meskipun kemajuan teknologi membuat kemajuan dalam berbagai bidang dan salah satunya dalam bidang informasi, ternyata juga membawa dampak negatif dalam perkembangan akhlak. Tentunya hal ini tidak lepas dari era keterbukaan yang akomodatif terhadap akulturasi budaya sehingga masyarakat sulit menyaring budaya luar yang begitu cepat menjajah. Dan tanpa disadari akulturasi budaya ini memberikan akibat yang sangat mengerikan berupa dekadensi moral.

Melihat realita seperti itu, maka pendidikan seharusnya lebih serius menanggapi hal tersebut. Sejarah telah memperlihatkan bahwa pendidikan Islam tidak menolak Iptek karena pada prakteknya pendidikan Islam akan selalu bersentuhan dengan lingkungan sekitar. Dalam situasi seperti sekarang ini, dimana dekadensi moral terjadi di mana-mana, maka disamping penanganan yang berdasarkan logika, juga harus dilakukan penanganan secara arif yaitu dengan pendekatan norma etika dan moral keagamaan.

Zakiyah Darajat menjelaskan, hendaknya pendidikan diberikan dalam jangkauan anak yaitu pendidikan yang bersifat nyata dan konkret yang dapat dilakukan dengan pembiasaan dalam sikap keseharian. Dengan pembiasaan akan timbul sebuah kata hati yang nantinya akan menjadi kontrol bagi setiap perbuatannya. Dengan demikian pendidikan tentang norma etika dan moral keagamaan akan sangat tepat jika diberikan sejak masa kanak-kanak.

Untuk itu, ada beberapa karakter metode dalam pendidikan Islam yang harus diperhatikan.

Pertama, mempermudah. Pada dasarnya metode pendidikan yang digunakan oleh pendidik adalah menggunakan suatu cara yang memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menghayati dan mengamalkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sekaligus mengidentifikasi dirinya dengan nilai-nilai yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan dan keterampilan tersebut.

Kedua, berkesinambungan. Berkesinambungan dijadikan sebagai salah satu prinsip metode pendidikan Islam karena dengan sesuatu yang berkesinambungan maka akan terjadi suatu proses yang sistematis. Karena Pendidikan Islam adalah sebuah proses yang akan berlangsung secara terus-menerus. Metode pendidikan yang digunakan pada masa lalu tidak hanya ditinggalkan begitu saja. Namun ia dijadikan sebagai landasan dan pijakan pada waktu sekarang yang sedang digunakan, sementara metode sekarang yang sedang digunakan menjadi dasar perencanaan bagi metode berikutnya dan demikian seterusnya.

Ketiga, fleksibel dan dinamis. Metode pendidikan Islam haruslah digunakan dengan prinsip fleksibel dan dinamis. Karena dengan kefleksibelan dan kedinamisan tersebut pemakaian suatu metode tidak akan dirasa monoton dengan hanya menggunakan satu metode saja. Pendidik bisa lebih mengembangkan variasinya dalam mendidik. Karena dengan prinsip ini diharapkan akan muncul metode-metode baru hasil kreatif dari pendidik-pendidik Islam.




Sumber: 
http://www.ditpdpontren.com/index.php?option=com_content&view=article&id=172:karakter-pendidikan-akhlak-dalam-pendidikan-islam&catid=35:wacana&Itemid=37

Hitung Zakat Anda Di Sini

Baca Al Qur'an Secara Online

TKA, TPA, TQA


A.Pengertian TKA-TPA (Taman Kanak-kanak Al-Qur’an – Taman Pendidikan Al-Qur’an)

TKA-TPA adalah lembaga pendidikan non formal tingkat dasar yang bertujuan memberikan bekal dasar kepada anak-anak usia 4-6 tahun ( TKA) dan usia 7–12 tahun (TPA ) agar menjadi generasi Qur’ani, generasi yang sholih-sholihah, yang mampu dan gemar membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
B.Pengertian TQA (Ta’limul Qur’an Lil Aulad)
TQA adalah lemnbaga pendidikan non formal sebagai kelanjutan dari TKA/TPA, yang bertujuan memberikan tambahan bekal bagi santri lulusan TKA/TPA atau anak-anak usia 5-14 tahun lainnya yang telah mampu membaca Al-Qur’an, sehingga mampu dan gemar membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai keterampilan khusus berupa hafal Juz ‘Amma dan memahami terjemahnya. Dalam hal ini, TQA dibedakan menjadi 3 jenjang, yaitu TQA Ula (dasar), TQA Wustho (menengah), dan TQA ‘Ulya (atas).
jenjangtpa
C. Tujuan
TKA-TPA-TQA, bertujuan menyiapkan terbentuknya generasi Qur’ani, yaitu generasi yang memiliki komitmen dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber perilaku, pijakan hidup dan tempat kembali segala urusan hidupnya. Hal ini ditandai dengan kecintaan yang mendalam terhadap al-Qur’an, mampu dan rajin membacanya, terus menerus mempelajari isi kandungannya, memiliki kemampuan yang kuat untuk mengamalkannya secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari.
D. Masa dan Waktu Pembelajaran
Masing-masing jenjang brlangsung selama 1 tahun, yang terbagi dlam 2 semester. Tiap semester ada pembagian rapot. Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an ini berlangsung selama 4 tahun, yaitu :
- Tahun pertama : TKA-TPA
- Tahun kedua : TQA Ula
- Tahun Ketiga : TQA Wustho
- Tahun Keempat : TQA Ulya
Untuk TKA, pembelajaran minimal 5 kali dalm 1 minggu, tiap pertemuan minimal 60 menit. Sedangkan untuk TPA dan TQA, pembelajarannya minimal 3 kali dalam 1 minggu, ttiap pertemuan minimal 90 menit.
sumber:
Budiyanto, H.M., dkk. 2006. Panduan praktis pengelolaan TKA-TPA-TQA D.I. Yogyakarta, Kurikulum 2006. LDPQ Yogyakarta.

Tentang Taman Kanak-Kanak Quran (TKQ)

Apakah Taman-Kanak Quran itu? Apakah ada persamaan dengan Taman Kanak-Kanak (umum) dan atau PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)? Berikut ini adalah artikel yang menjelaskan apa dan bagaimana TKQ itu.

Pengertian

Taman Kanak-Kanak Quran (TKQ) adalah lembaga pendidikan dan pengajaran Islam untuk anak-anak usia 4-6 tahun, yang menjadikan santri nya mampu membaca Al-Quran dengan benar sebagai target pokoknya.

Dasar Keberadannya

QS. At-Tahrim ayat 6 :

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”.

Sebagai realisasi menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka, tidak ada lain adalah melalui pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an sedini mungkin.

Sabda Rosulullah saw.

"Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara; mencintai Nabimu, mencintai keluarga Nabi dan membaca Al-Quran” (HR At Thobroni);

Hak anak atas orang tuanya ada 3 : memilihkan nama yang baik ketika baru lahir, mengajarkan Kitabullah Al-Quran ketika mulai bisa berfikir dan menikahkan ketika telah dawasa” (HR. Ahmad);

Sebaik baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori).

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mengajarkan membaca Al-Quran adalah suatu keharusan bagi setiap orang tua terhadap anak-anaknya dan keharusan pula bagi sesama muslim.

Maqalah Ulama’

Didalam ”Muqaddimah”nya, Ibnu Khaldun menunjuk pada pentingnya mengajarkan dan menghafalkan Al-Quran kepada anak-anak. Ia menjelaskan bahwa pengajaran Al-Quran itu merupakan fondasi pengajaran bagi seluruh kurikulum, sebab Al-Quran merupakan salah satu “Syi’ar Ad-din” yang menguatkan aqidah dan mengokohkan keimanan.

Didalam “As-Siyasah”nya, Ibnu Sina menasihatkan agar kita mulai mengajar anak dengan pengajaran Al-Quran. Segenap potensi anak, baik jasmaniyah maupun akalnya, hendaknya dicurahkan untuk menerima pengajaran ini, agar anak mendapat bahasa asli dan agar aqidah bisa mengalir dan tertanam kokoh dalam kalbunya.

Dari maqalah Ibnu Khalddun dan Ibnu Sina ini dapat disimpulkan bahwa pengajaran membaca Al-Quran haruslah mendapatkan prioritas yang pertama diajarkan kepada anak. Lisan yang sudah mampu membaca Al-Quran sebagai bacaan sehari-hari, secara otomatis aqidah mengalir dan tertanam kokoh dalam kalbunya. Inilah pentingnya keberadaan TKQ yang berusaha menanamkan kecintaan dan kemampuan membaca Al-Quran kepada anak didik sedini mungkin.

Aturan Perundangan di Indonesia

Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara, sila pertamanya adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Agar “Ketuhanan Yang Maha Esa” ini tetap kokoh keberadaanya di Indonesia, mutlak di perlukan adanya “Pendidikan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Itulah pendidikan agama.

Dalam UU RI No. 2 tahun 1989 tentang ”Sistem Pendidikan Nasional” Bab ll Pasal 4 ditegasken bahwa salah satu ciri manusia Indonesia yang menjadi tujuan pendidikan nasional ialah manusia yang beriman dan bertaqwa. Agar ”Beriman dan Bertaqwa” ini dapat terwujud, mutlak diperlukan adanya pendidikan keimanan dan ketaqwaan. Itulah pendidikan agama.

Dalam Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Mentri Agama RI Nomor 128 Tahun 1982/44 A Tahun 1982 tentang: ” Usaha peningkatan kemampuan baca tulis Al-Quran bagi umat Islam dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari “, dapat di ambil kesimpulan bahwa usaha peningkatan kemampuan membaca Al-Quran ini disamping menjadi program umat Islam tetapi juga menjadi program pemerintah. Agar program ini dapat terealisir dengan baik, maka perlu ditumbuhkan lembaga-lembaga pengajaran baca tulis Al-Quran.

Jadi berdasarkan petunjuk Al-Quran, Al-Hadits, Maqalah Ulama' dan Peraturan Perundangan di Indonesia keberadaan TKQ mendapatkan fondasi yang kokoh. TKQ adalah merupakan realisasi kongkrit dari perintah agama dan program pemerintah Indonesia.
Tujuan dan Target

TKQ bertujuan untuk menyiapkan anak didiknya agar menjadi generasi yang Qurani, yaitu generasi yang mencintai Al-Quran, komitmen dengan Al-Quran sebagai bacaan dan pandangan hidup sehari-hari.

Untuk tercapainya tujuan ini, TKQ perlu merumuskan pula target-target operasionalanya. Dalam waktu kurang lebih satu-dua tahun, diharapkan setiap anak didiknya akan memiliki kemampuan:

  • Dapat membaca Al-Quran dengan benar, sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Tajwid.
  • Dapat melakukan sholat dengan baik dan terbiasa hidup dalam suasana yang Islami.
  • Hafal beberapa surat pendek, ayat-ayat, pilihan do’a sehari-hari.
  • Dapat menulis huruf Al-Quran

Kemampuan membaca Al-Quran dengan benar, adalah merupakan target pokok yang harus dimiliki oleh setiap santri. Oleh karena itu, pada saat pelaksanaan munaqosyah (saat ujian akhir), kemampuan membaca Al-Quran dijadikan materi utama, sedangkan materi-materi yang lain sebagai penunjang. Wallohu a'lam.
sumber: http://www.aliqomah.com/home/index.php?option=com_content&view=article&id=24:tentang-taman-kanak-kanak-quran-tkq&catid=9:artikel&Itemid=25